Jumat, 07 Juni 2013

Bahasa Sunda Cirebon

Bahasa Sunda Cirebon

Bahasa Sunda-Cirebon atau disebut sebagai Bahasa Sunda Cirebonan merupakan ragam percakapan bahasa Sunda yang ada di wilayah eks-Karesidenan Cirebon dan sekitarnya, yang meliputi Kuningan, Majalengka, Cirebon, Indramayu dan Subang serta Brebes di Jawa Tengah
Bahasa Sunda Cirebon meliputi berbagai ragam percakapan atau dialek dari Bahasa Sunda wilayah Timur Laut (Kuningan), Bahasa Sunda wilayah Tengah-Timur (Majalengka) serta beberapa ragam dialek Bahasa Sunda yang berbatasan langsung dengan tanah kultural budaya Jawa ataupun budaya Cirebonan, misalkan ragam percakapan bahasa Sunda Parean dan Sunda Lea di wilayah Kecamatan Kandang Haur dan Kecamatan Lelea di Kabupaten Indramayu yang berbatasan langsung dengan tanah kultural budaya Cirebon-Indramayuan yang menggunakan Bahasa Cirebon dialek Indramayuan atau ragam percakapan Bahasa Sunda Binong di Kecamatan Binong yang juga terpengaruh langsung oleh Bahasa Cirebon dialek Indramayuan dan Bahasa Jawa Banyumas yang dibawa oleh pendatang dari Tegal dan Brebes pada awal abad ke 20 melalui jalur kereta api Tegal-Brebes ke wilayah barat Indramayu dan sekitarnya, sehingga dalam ragam percakapan Bahasa Sunda Binong juga dikenal istilah "Nyong" (untuk menyebut kata "Saya") dan istilah "Wong" (untuk menyebut kata "Orang").

(*) Sunda Kuningan atau dialek Timur-Laut termasuk ragam bahasa sunda yang digunakan di Kabupaten Cirebon wilayah Timur dan Kabupaten Brebes bagian barat dan selatan, lihat ragam Sunda dialek Timur-Laut di Brebes

Ragam Percakapan

Bahasa Sunda Cirebon memiliki ragam percakapan yang tidak jauh dengan Bahasa Sunda pada umumnya, namun kedekatan wilayah secara Geografis dengan Penurut Bahasa Cirebonan membuat Bahasa Sunda Cirebon ini secara langsung menggunakan kosakata Bahasa Cirebon kedalam Kosakata Bahasa Sundanya.

Bahasa Sunda Kuningan (Kabupaten Cirebon sebelah Timur, Kuningan dan Kabupaten Brebes wilayah Barat dan Selatan)

Bahasa Sunda Kuningan atau yang secara ilmu kebahasaan lebih dikenal dengan Bahasa Sunda dialek Timur-Laut, merupakan ragam percakapan atau dialek Bahasa Sunda yang digunakan di wilayah Kabupaten Cirebon sebelah timur, di wilayah Kabupaten Kuningan dan wilayah Kabupaten Brebes sebelah barat dan selatan, tidak seperti Pada Bahasa Sunda Parean yang tidak mengenal pepel "eu" dan menggantinya dengan pepel "e" (contoh : heunteu di Bahasa Sunda Baku "dialek Selatan" yang berarti "tidak" dalam bahasa Indonesia, pada Bahasa Sunda Parean ditulis dan dibaca "hente"). Bahasa Sunda dialek Timur Laut ini masih mempertahankan bentuk pepel "eu", sehingga tidak begitu banyak perbedaan dengan Bahasa Sunda baku atau Bahasa Sunda dialek Selatan. berikut adalah contoh ragam percakapan Bahasa Sunda dialek Timur Laut yang digunakan di wilayah Kabupaten Cirebon sebelah Timur, tepatnya di wilayah Kecamatan Ciledug, Kabupaten Cirebon, tepat dengan perbatasan dengan Kabupaten Brebes dan tidak jauh dari tapal batas dengan wilayah Kuningan :
Percakapan antara Masyarakat asli "Pituin" dengan Masyarakat Pendatang.
Si Ucok: "Heh kau barudak,, nempo sendal kami teu??"
Barudak: "Sendal nu kumadeh bang??"
Si Ucok: "Eta sendal nu karek meuli tadi isuk-isuk"
Barudak: "Wah teu nyaho bang"
Teu lila datang Pa Haji nu kakarek kaluar ti Mesjid, sarua di tanya ku si ucok...
Si Ucok: "Pa Haji, sendal kami leungit pa haji"
Pa Haji: "Patuker (tertukar) meureun bang"
Si Ucok: "Bah..! Siapa pula eta pa tuker?? Wah kudu di bantai ku kami..!"
Pa Haji: "Doh si abang, Patuker teh Pahili"
Si Ucok: "Bah..! Duaan jeung si Pa Hili??? Wah duanana ku kami kudu di bantai..!"
Pa Haji: "Jeh di bere nyaho teh teu ngarti-ngarti nyaneh mah, *bari ngaleos sewot*
artinya dalam Bahasa Indonesia
Si Ucok: "Heh kau anak-anak, lihat sendal saya tidak?"
Barudak: "Sendal yang bagaimana Bang?"
Si Ucok: "Itu Sendal yang baru dibeli tadi Pagi"
Barudak: "Wah gak tahu Bang"
Tidak lama kemudian datang Pak Haji yang baru saja keluar dari Mesjid, sama juga beliau ditanya oleh si ucok...
Si Ucok: "Pak Haji, sendal saya hilang Pak Haji!"
Pa Haji: "Patuker (Tertukar) mungkin Bang!"
Si Ucok: "Bah..! Siapa pula itu Pak tuker?? Wah harus diberi pelajaran sama saya..!" (Ucok tidak mengerti Patuker, dan dikira nama orang "Pak Tuker")
Pa Haji: "Duh si abang, Patuker itu Pahili (tertukar)"
Si Ucok: "Bah..! berduaan dengan si Pak Hili??? Wah dua-duanya oleh saya harus diberi pelajaran..!"
Pa Haji: "Jeh dikasih tahu kamu mah tidak ngerti-ngerti, *sambil sewot*
Penjelasan
walaupun Bahasa Sunda dialek Timur-Laut ini hampir serupa dengan Bahasa Sunda Baku atau Sunda dialek Selatan, namun ada beberapa kosakata yang berbeda, yakni penggunaan kata "Kami" untuk menyebut "Saya" yang berbeda dengan Bahasa Sunda Baku yang menggunakan kata "Abdi" dan juga ada beberapa kata seperti "Kumadeh?" yang berarti "Bagaimana?" yang berbeda dengan Bahasa Sunda Baku yang menggunakan kata "Kumaha"

Perbedaan Bahasa Sunda Kuningan dengan Bahasa Sunda Baku (dialek selatan)

Pada dasarnya ragam Bahasa Sunda dialek Timur-laut ini memiliki kosakata yang hampirserupa hanya pada beberapa kata tertentu memiliki perbedaan yang menjadi ciri Bahasa Sunda dialek Timur-laut ini. diantaranya.
  • Saya, pada Bahasa Sunda Baku digunakan istilah "Abdi" sementara pada Bahasa Sunda dialek Timur-Laut menggunakan kata "Kami", penggunaan kata "kami" ini serupa dengan yang dipakai pada Bahas Sunda Parean di wilayah Indramayu
  • Kamu, pada Bahasa Sunda Baku digunakan istilah "Anjeuna atau Maneh" sementara pada Bahasa Sunda dialek Timur-Laut menggunakan kata "Nyaneh"
  • Siapa, Bagaimana dan Kenapa? pada Bahasa Sunda Baku digunakan istilah "Saha, Kumaha dan Naha?" sementara pada Bahasa Sunda dialek Timur-Laut ini menggunakan kata "Sadeh, Kumadeh dan Nadeh?" sebagai cirinya.

Sunda Parean (Kec. Kandanghaur, Indramayu)

Sampai dengan tahun 1980-an, masyarakat tua di Kecamatan Lelea, Indramayu, masih menggunakan bahasa sehari-hari yang beda dengan masyarakat Indramayu pada umumnya. Masyarakat di sana kala itu menyebutkan bahwa bahasa yang digunakan adalah bahasa Sunda abad ke-14. Pada abad tersebut wilayah Indramayu merupakan bagian dari Kerajaan Sunda Galuh, Ketika datang Adipati Wiralodra dari Bagelen, Mataram. Dermaga Pelabuhan Muara Cimanuk direnovasi. Sang Adipati Wiralodra membawa banyak tenaga kerja dari Jawa. Mereka beranak-pinak di wilayah pantura dan membentuk bahasa campuran, yang kini dikenal sebagai Bahasa Cirebon dialek Indramayuan atau disebut Bahasa Dermayon, hanya Lelea yang bertahan dengan bahasa yang mereka sebut sebagai Bahasa Sunda. Desa Lelea kini masuk ke wilayah Kecamatan Lelea, dulu Kecamatan Kandanghaur Girang. Berikut contoh ragam percakapan Bahasa Sunda Parean - Sunda Lea yang ada di Kabupaten Indramayu.
“Punten. Cakana boga kotok bibit? Caang tah poek? Kami aya perlu. Kami ndak nanya ka anak kita, daek tah hente? Diterima tah hente? Kami mawa jago ndak nganjang. Mun diterima, ie serena. Esina aya gambir, bako, sere jeng lainna. Ngges ente lila, kami ndak goyang, panglamaran diterima mah. Sejen poe, kami ndak nentuken waktu, jeng nentuken poe kawinna.”
artinya dalam Bahasa Indonesia
“Katanya punya anak gadis? Sudah punya pasangan belum? Saya ada perlu. Saya hendak bertanya kepada anak saudara, diterima atau tidak? Saya membawa jago hendak melamar. Kalau diterima, ini sirihnya. Isinya ada gambir, tembakau, sirih, dan lainnya. Sudah ya, saya tidak lama-lama, saya hendak pulang, kalau lamaran diterima mah. Lain hari, saya hendak menentukan waktu dan menentukan hari perkawinan.”
Penjelasan :
Ada nuansa yang terasa asing pada penggunaan bahasa Sunda seperti di atas. Bahasa yang digunakan mayoritas penduduk di Jawa Barat itu, di Indramayu seperti terjadi distorsi dan akulturasi dengan bahasa daerah lainnya (Cirebon/Indramayu dan Melayu-Betawi). Bahasa Sunda yang khas itu sudah berabad-abad digunakan, yakni di Desa Parean Girang, Bulak, dan Ilir Kecamatan Kandanghaur, serta Desa Lelea dan pemekarannya, Tamansari Kecamatan Lelea. Masyarakat mengenalnya sebagai bahasa Sunda-Parean dan Sunda-Lea.
Kosakata asing dalam bahasa Sunda bermunculan pada kalimat di atas, seperti kami, kita, goyang. Sepintas kosakata tersebut seperti kata serapan dari bahasa Indonesia. Setelah mengetahui artinya, ternyata bukan. Kami artinya saya, dalam arti tunggal, bukan jamak. Kita berarti saudara. Goyang mengambil serapan dari bahasa Indramayu, yang artinya pulang. Penggunaan kosakata kami merupakan pengambilan undak-usuk yang dianggap halus dibandingkan aing, meski ada yang lebih halus lagi yakni "kola". Kosakata kita juga lebih halus, sebab penggunaan yang kasarnya adalah "inya".

Perbedaan Bahasa Sunda Parean dengan Bahasa Sunda Baku (dialek selatan)

Dalam percakapan sehari-hari tentu saja akan lebih banyak lagi dijumpai kata-kata atau kalimat yang asing. Keasingan itu bisa jadi akan menimbulkan kesalapahaman, bahkan pengertian yang berbeda bagi orang luar.
Contoh :
“Bini aing benang kebanjir” disangka orang luar sebagai “istri saya hanyut oleh banjir”, padahal artinya “benih padi saya hanyut kena banjir”. “Melak waluh, buahna kendi?” disangka sebagai “menanam labu, buahnya kendi?” padahal artinya, “menanam labu, buahnya mana?”
Penjelasan :
Pada Bahasa Sunda Parean "Bini" berarti Benih, sedangkan dalam Bahasa Sunda Baku "Bini" berarti Istri. begitu juga dengan kata "Kendi" yang berarti Mana?, sementara dalam bahasa Sunda Baku "Kendi" berarti "Guci / Kendi". penggunaan kata "Kendi" merupakan alkulturasi atau pengaruh budaya Cirebon-Indramayuan dari kata "Endi / Mendi / Ngendi" yang berarti "Mana?" dalam Bahasa Indonesia.

Mengapa Jawa Barat Cenderung Identik Dengan Bahasa Sunda?


Jawa Barat adalah salah satu provinsi di pulau Jawa yang paling banyak penduduknya. Jawa Barat beribukotakan Bandung. Di Bandung sendiri bahasa daerah yang paling banyak dipakai adalah bahasa sunda. Dengan latar belakang ini dapat dikatakan bahwa Bandung merupakan kota yang ‘berbahasa sunda’.
Yang sering kita lihat dari citra Jawa Barat adalah Parahiyangan. Ini juga menjadi salah satu penanda dari Jawa Barat. Dan Parahiyangan adalah daerah dengan penduduk berbahasa sunda. Dan yang pasti Jawa Barat beribukotakan Bandung yang mana bahasa daerah yang paling banyak dipakai adalah bahasa sunda. Dengan latar belakang ini dapat dikatakan bahwa Bandung merupakan kota yang ‘berbahasa sunda’. Seperti yang diketahui bahwa Jawa Barat banyak memiliki kota diantaranya Bandung yang merupakan Ibukota, Bogor, Kuningan, Bekasi, Depok, Cirebon, Indramayu serta banyak kota-kota lainnya. Kota – kota yang disebut di awal merupakan kota yang penduduknya mayoritas menggunakan bahasa sehari-harinya adalah bahasa sunda. Mungkin inilah yang menjadikan citra yang menyatakan bahwa Provinsi Jawa Barat adalah Provinsi yang identik dengan bahasa sunda. Tetapi kenyataannya tidaklah demikian. Karena sebenarnya ada kota-kota besar di Jawa Barat yang penduduknya tidak menggunakan bahasa sunda pada kesehariannya, melainkan menggunakan bahasa Jawa. Dua kota yang disebut terakhir adalah contoh dari beberapa kota yang menggunakan Bahasa Jawa. Hal ini kurang diperhatikan oleh banyak orang, karena memang citra Jawa Barat di mata banyak orang adalah berbahasa sunda. Sedangkan di Cirebon sendiri bahasa yang digunakan oleh penduduknya antara lain adalah jawa dan sunda.
Perlu diperhatikan juga faktor geografis yang menyebabkan penduduk Cirebon diidentikkan dengan bahasa sunda. Adalah Kuningan yang merupakan daerah yang menjadi perbatasan Cirebon bagian selatan yang penduduknya mayoritas menggunakan bahasa sunda. Memang diakui bahwa penduduk Cirebon yang tinggal berbatasan dengan Kota Kuningan berbahasa sehari-hari dengan bahasa sunda. Tetapi asumsi ini tidak dapat menyatakan bahwa penduduk Cirebon diidentikkan dengan bahasa sunda. Karena pada asalnya penduduk Cirebon memiliki bahasa pokok bahasa Jawa. Dengan kata lain alasan ini tidak cukup untuk menjustifikasi penduduk Cirebon berbahasa sunda (atau dengan kata lain Cirebon identik dengan penduduknya yang berbahasa sunda). Karena kita tahu bahwa Cirebon juga berbatasan dengan Indramayu di sebelah barat dan Losari di sebelah timur yang notabene penduduk kedua kota ini berbahasa jawa. Dan tetap saja keidentikan sunda masih tetap saja menempel. Memang semua dikembalikan kepada masyarakat, karena masyarakatlah yang menilai. Semoga pemikiran kecil seperti ini tidak akan memecah belah bangsa Indonesia pada umumnya dan penduduk Jawa Barat pada khususnya. Ta’alallahu bi’ulumihi wa’adzimi sifatihi. Wallahu a’lam.

Rabu, 05 Juni 2013

Daftar Nama Bupati Kuningan dari Zaman Hindu Hingga Sekarang


Daftar Nama Bupati Kuningan dari Zaman Hindu Hingga Sekarang

 A.     Zaman hindu:
1.       Seuweukarma
2.       Sandjaya
3.       Rahiyang tamperan
4.       Rahiyang banga
5.       Rakean darmasiska
6.       Kigedeng kuningan
B.      Zaman islam:
1.       Pangeran dipati ewangga
2.       Pangeran ariya adipati kuningan
3.       Pangeran arya kamuning
C.      Zaman penjajahan belanda:
1.       R. Brata adiningrat
2.       Doejeh brataamidjaja
3.       R. Dali soerjanaatmadja
4.       R. Moch. Achmad
5.       R. Umar said
D.     Zaman jepang:
1.       R. Umar said
E.      Zaman kemerdekaan ri 1945:
1.       R. Asikin nitiatmdja
F.       Zaman kedudukan nica (recomba):
1.       R. Asikin joedadibrata
2.       R. Hollan soekmadiningrat
3.       R. Abdul rifa’i
G.     Zaman ri 1950 sampai dengan sekarang:
1.       R. Noer armadibrata
2.       R. Moch hafil
3.       R. Tikok moch. Ilyas
4.       R. Soemitra
5.       Tb. Amin abdullah
6.       Saleh alibasyah  (1958-1961)
7.       Usman djatikusumah
8.       Rd. Komar surjanaatmadja
9.       S. Soemintaatmadja
10.   R. Aruman wirananggapati (1967-1973)
11.   Karli akbar (1973-1978)
12.   R.h. Unang sunardjo, s.h. (1978-1983)
13.   Drs. H. Moch. Djufri pringadi (1983-1988)
14.   Drs. H. Subandi (1988-1993)
15.   H. Yeng ds. Partawinata, s.h. (1993-1998)
16.   Drs. H. Arifin setiamihardja, mm (1998-2003)
17.   H. Aang hamid suganda, s.h. (2003-2008/2008-2013)

Arti Dari Lambang Kota Kuningan Jawa Barat

Arti Dari Lambang Kota KUNINGAN-JAWA BARAT


Makna UMUM LAMBANG DAERAH KABUPATEN KUNINGAN

Dengan modal semangat dinamis, konstruktif, sportif, semangat menegakkan keadilan, melenyapkan kebathilan, sanggup berjuang membangun dan bertaqwa kepada Allah SWT untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

ARTI UNSUR-UNSUR LAMBANG DAERAH

Dasar
Perisai berbentuk lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia berarti tenang, penegak keamanan Pancasila dan UUD 1945 serta lambang keadaan yang selalu aman, tenteram dan sejahtera.

Kuda Jantan
Melambangkan sifat masyarakat kuningan yang dinamis, konstruktif, kretif, sportif, semangat menegakan keadilan dan melenyapkan kebathilan. Dalam sejarah perjuangan leluhur Kuningan dan masa gerilya dalam Kabupaten Kuningan, kuda digunakan sarana angkutan dan juga digunakan sebagai alat perjuangan, serta terkenal dengan Leutik-leutik kuda Kuningan (Kecil-kecil kuda Kuningan).

Gunung Ciremai
Menunjukan Kuningan berada di kaki gunung Ciremai, gunung tertinggi di Jawa Barat dengan tanahnya yang subur, udaranya sejuk dan nyaman, cocok untuk daerah wisata.

Air Sungai Lima Gelombang
Air sungai melambangkan bahwa Kabupaten Kuningan memiliki lima sungai yang besar, yaitu Cisanggarung, Cijolang, Cisande, Cijangkelok dan sungai Citaal.

Bokor Kuning
Melambangkan sejarah lahirnya Sang Adipati Kuningan yang kemudian menjadi kepala pemerintahan pertama di Kuningan pada tanggal 1 April 1498. Bokor Kuning diartikan juga sebagai lambang lahirnya Pemerintah Kabupaten Kuningan pada tanggal 1 September 1498.

Padi
Melambangkan kesuburan di bidang pangan.

Kapas
Melambangkan kesuburan di bidang sandang.

ARTI WARNA
Hijau : Kemakmuran, kesejukan, ketenangan dan harapan (optimis)
Putih : Kesucian, kebersihan, kejujuran, keadilan dan kewibawaan
Hitam : Tegak, kuat, kebenaran, ampuh dan teguh
Biru : Kesetiaan, ketaatan, kepatuhan, kebesaran jiwa, berpandangan luas, perasaan halus, rendah hati dan berjiwa besar
Kuning Emas : Kesejahteraan, keagamaan, keagungan, keluhuran dan keluhungan.

Misteri “Batu Tulis” dari Desa Jabranti, Kuningan, Jawa Barat

Keberadaan Batu Tulis di Desa Jabranti, Kuningan, Jawa Barat, menyentuh dua babak masa, yaitu prasejarah dan sejarah.


Setidaknya sejak tiga puluh tahun silam, warga mengetahui sepasang batu berdiri tegak di punggungan Gunung Pojoktiga pada ketinggian 1.300 meter, yang terletak di wilayah Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat.
Menhir (batu tegak) ini oleh warga sekitar dikenal dengan nama sebutan “Batu Tulis” lantaran terdapat goresan-goresan di permukaannya yang sekarang ini mulai ditumbuhi lumut.
Bersama seorang dosen Geografi Universitas Indonesia, Taqyuddin, Masyarakat Arkeologi Indonesia (MARI) tergerak untuk melakukan peninjauan dan penelitian pada awal Februari lalu.
Ketua Umum MARI yang sekaligus ahli arkeologi dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia, Ali Akbar, melaporkan bahwa penelitian terhadap “Batu Tulis” mendesak untuk dilakukan.
Batu-batu itu terletak di alam terbuka sehingga kondisi batu sangat rentan karena kena terpaan hujan dan angin. Apalagi lokasi tersebut juga rawan longsor. Titik lokasi “Batu Tulis” tepatnya di Desa Jabranti, yang kurang lebih satu jam perjalanan dari kota Kuningan.
Kemudian dari Desa Jabranti menuju dusun terdekat di kaki pegunungan yakni Dusun Banjaran, masih menempuh jalan setapak dengan berjalan kaki selama sekitar 30 menit.
Dari sana, dilanjutkan dengan trekking mendaki gunung 3-4 jam untuk mencapai batu ini, jadi lokasinya berada di batas dua kabupaten, Brebes dan Cilacap.


Berdasarkan konfirmasi ke Balai Arkeologi, baik Balai Jawa Barat maupun Jawa Tengah, temuan ini belum terdata.
Memang sudah lama masyarakat setempat tahu tentang batu, tapi itu pun hanya segelintir.
Yang tahu juga tidak terlalu peduli, karena jalur ini jarang dilintasi, aksesnya sulit.
Beberapa penduduk hanya masuk hutan ketika mencari kayu, hasil hutan, atau berburu. Maka tidak pernah berlanjut dengan penelitian sebelumnya,” ungkap Ali Akbar yang ditemui di FIB-UI, Depok (12/2/13).
Ukuran “Batu Tulis” adalah setinggi 160 cm, dengan lebar 80 cm, dan lingkaran terlebar 180 cm. Jarak dua batu adalah 153 cm dan tersusun dalam posisi tegak saling berhadapan.

Hewan dan manusia
Uniknya, keberadaan “Batu Tulis” menyentuh dua babak masa dalam purbakala. Batu berarti peninggalan tradisi Megalitikum (batu besar) pada masa prasejarah, dan gambarnya menunjukkan relief pada masa sejarah klasik.
Melihat gambar-gambarnya, ditengarai relief ini merupakan suatu kisah. Ali menduga, batu telah ada sejak zaman prasejarah, lantas dipakai kembali manusia untuk menggambarkan kisah saat beralih ke zaman sejarah.
Sementara ini pada pahatan di atas ketiga sisi atau bidang batu, dikenali beberapa bentuk/motif berupa hewan dan antropomorfik (anthropomorphic: pemanusiaan atau atribusi pada bentuk/karakter manusia).
Antara lain ular naga, lengkap dengan kepala tubuh, sisik, ekor; moncong menyerupai buaya; kepala burung; belalai gajah; serta manusia dengan profil menyamping dan sedang memegang senjata semacam parang.
Selain bentuk-bentuk tersebut, terdapat juga beberapa goresan berupa bentuk geometris yang masih sulit dikenali. “Penelitian yang lebih intensif diperlukan,” pungkas Ali. Ia mengatakan, MARI berencana penelitian selanjutnya akan membaca dan menafsirkan setiap guratan gambar ini.

Silsilah Sang Adipati Kuningan

Silsilah Sang Adipati Kuningan

Berikut ini susunan silsilah Sang Adipati Kuningan (Raja Daerah Kuningan pada akhir abad XV – awal abad XVI Masehi) berdasarkan sumber sejarah yang ada. Mudah-mudahan ada manfaatnya, khususnya buat pengetahuan warga masyarakat Kuningan sendiri, dan para pembaca pada umumnya. Bilamana masih ada kekeliruan mohon sumbangsih saran/masukannya. Terima kasih


Mengenai tokoh “Suralaya”, yaitu ayahanda dari Jayaraksa, Ratu Selawati, dan Bratawiyana, ada juga yang menyebut dengan julukan “Ranggamantri”. Padahal di generasi berikutnya kita lihat juga ada nama Ranggamantri (Pucuk Umun Talaga). Dari hal tersebut seolah-olah nama Ranggamantri muncul sebagai : 1) nama lain dari Prabu Surawisesa / Rd. Suralaya, dan 2) Pucuk Umun Talaga (putera dari Rd. Munding Surya). Kiranya nama Ranggamantri ini bukanlah nama orang yang sesungguhnya, tetapi sepadan dengan nama gelar jabatan para bangsawan istana/keraton, seperti halnya: Adipati, Tumenggung, dll.
Selanjutnya perlu dijelaskan bahwa sepeninggal Rd. Kusumajaya (Geusan Ulun Kuningan), sebenarnya beliau mempunyai banyak putera & puteri (sebagaimana saya jelaskan dalam tulisan lain di blog ini). Namun yang ditulis hanya Mangkubumi karena beliaulah yang mempunyai andil besar dalam meneruskan estafet pemerintahan di Kuningan pada masa itu.

Festival Kuliner Kabupaten Kuningan

Festival Kuliner Kabupaten Kuningan

Kabupaten Kuningan berada di Propinsi Jawa Barat terletak di kaki Gunung Ciremai (gunung tertingi di Jawa Barat) yang memiliki luas sekitar 1.178,57 km.  Lambang daerah Kabupaten Kuningan memiliki arti “Dengan modal semangat dinamis, konstruktif, sportif, semangat menegakkan keadilan, melenyapkan kebathilan, sanggup berjuang membangun dan bertaqwa kepada Allah SWT untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia”.
Kuningan memiliki banyak potensi, bukan hanya SDM saja, namun potensi alam dan budaya juga turut mendukung akan pembangunan daerah ini. Sektor pariwisata merupakan salah satu potensi andalan yang terus digali, dikembangkan dan dipromosikan. Alam Kuningan yang indah terdiri dari gunung, lembah, bukit, lereng dan danau, serta udaranya yang sejuk membuat kota ini menjadi salah satu kota yang pantas direkomendasikan dalam daftar liburan.
Desa Linggarjati merupakan salah satu tempat bersejarah perjuangan kemerdekaan RI. Di tempat inilah pernah dilaksanakannya perundingan antara pemerintah RI dan Belanda yang lebih dikenal dengan “Perundingan Linggarjati”.
Banyak tempat wisata yang terdapat di kota Kuningan, diantaranya ada Cibulan yang terkenal dengan ikan dewanya, bumi perkemahan Palutungan, Talaga Remis, Waduk Darma, Lembah Cilengkrang, Kebun Raya dan lain-lain. Selain tempat wisata yang indah, kota ini didukung pula dengan seni budaya yang beragam, diantaranya ada seni budaya sapton yang digelar pada saat hari jadi kota Kuningan, seni budaya cingcowong digelar di kala musim kemarau yang panjang, seni budaya kawin cai digelar setelah panen padi masyarakat setempat, dan seni budaya pesta dadung digelar sebagai tanda syukur petani kepada yang maha kuasa karena diberikannya hasil pertanian yang berlimpah dan lain-lain.
Selain tempat wisata dan seni budaya yang beragam, kota Kuningan memiliki kuliner khas yang beragam pula. Tape ketan merupakan makanan khas kota Kuningan yang berbahan dasar beras ketan putih. Aroma dan rasanya yang khas membuat makanan ini dijadikan salah satu buah tangan oleh para wisatawan yang datang ke Kuningan. Bukan hanya tape ketan saja, ada juga gemblong, leupeut, koecang, papais monyong, cuhcur, kripik singkong, dan lain-lain.
k1
Tak hanya makanan, ada pula minuman khas dari Kuningan yaitu Jeniper dan Jenisa. Jeniper dan Jenisa merupakan minuman yang berasal dari perasan jeruk nipis. Rasanya yang asam dan segar membuat minuman ini patut untuk dicoba. Minuman ini dapat diminum secara langsung baik dingin maupun hangat.
Dalam rangka penganekaragaman pangan olahan pengganti beras, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Kuningan mengadakan “Ethnic Food Festival” yang diselenggarakan pada 30-31 Mei 2012.  Acara yang  bertempat di halaman kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan,  dihadiri dan dibuka langsung oleh H. Aang Hamid Suganda S.Sos, selaku Bupati Kabupaten Kuningan. Kegiatan yang diikuti oleh 40 pelaku usaha ini mengambil tema “Memasyarakatkan Makanan Tradisional Non Beras Khas Kuningan”.
Hasil kreatifitas dari ibu-ibu PKK kecamatan dan industri rumahan se-kabupaten Kuningan ditampilkan dalam acara tersebut. Tidak hanya makanan khas seperti tape, gemblong dan lain-lain, tetapi disana juga ditampilkan puding, kue dan bolu dengan bahan utama berupa sayuran seperti kangkung, ubi dan kacan-kacangan. Salah satunya adalah kreasi dari ibu-ibu PKK Kecamatan Ciawigebang yang membuat bolu dengan bahan dasar kangkung dan puding yang dibuat dari campuran tahu dan bihun.
Salah satu peserta festival dari desa Cibinuang telah menghsilkan Kriuk Dendeng Ikan, Nugget Singkong Ikan dan Gemblong Pedas. Diharapkan dengan inovasi produk dari para peserta, produk-produknya dapat dikenal oleh masyarakat Kuningan lainnya. Peserta yang terpilih menjadi pemenang, mendapatkan piagam penghargaan dan uang pembinaan serta difasilitasi untuk dipromosikan produknya pada event pameran regional di Bandung dan pameran Nasional di Surabaya. Dengan acara food festival seperti ini, makanan khas kota kuda ini diharapkan dapat dikenal masyarakat luas dan untuk kedepannya makanan tradisional dari Kuningan dapat Go Internasional dengan cara mempromosikannya melalui event-event regional dan nasional.
Kota Kuningan mempunyai banyak julukan, salah satunya ialah kota kuda. Diharapkan dengan lambang dari kota ini, memacu masyarakat Kuningan agar dapat lebih maju. Meskipun kota Kuningan merupakan kota kecil namun dengan keadaan alam yang masih asri, seni budaya yang masih kental, kekayaan alam yang melimpah dan makanan khas yang bervariasi menjadikan kota ini memiliki banyak warna yang dapat membuat para wisatawan dan pribumi takjub akan kota kuda ini.

Jajanan Khas Kuningan

Makanan Khas Kuningan 

Setiap daerah memiliki makanan khasnya masing-masing. Terkadang kita menemukan makanan yang sama antara daerah satu dengan daerah yang lain, tapi dengan penamaan yang berbeda.
Untuk daerah Kuningan sendiri, banyak sekali makanan khasnya yang bisa dijadikan oleh-oleh .
Apa saja sih saja makanan camilan oleh-oleh khas Kuningan itu. Ayo kita lihat satu persatu:


1. Peuyeum Ketan

Dari namanya pasti sudah pada tahu kalau peuyeum atau tape ini terbuat dari beras ketan, biasanya ketan yang digunakan adalah ketan putih kadang ada juga yang menggunakan ketan hitam. Beras ketan yang sudah dikukus dan dikasih aroma dari beberapa daun khusus kemudian difermentasi menggunakan ragi dan dibungkus dengan daun jambu air. Butuh 3-4 hari sampai peuyeum matang dan siap dikonsumsi. Selain rasanya yang khas, dan aromanya yang unik, peuyeum ketan Kuningan biasanya disimpan dalam kemasan ember sedang hitam berisi 100 buah peuyeum, namun demikian sekarang ada juga dalam kemasan kardus kecil ataupun kemasan palstik. Yang terkenal adalah peuyeum ketan Cibeureum dengan merk Pamella.


2. Opak Bakar Spesial

Opak bakar ini terbuat dari komposisi beras ketan, kelapa, garam dan air yang dibentuk dan dipotong-potong tipis seperti keripik lalu dibakar. Opak ini berbeda dari opak biasanya yang berbentuk bulat dan agak tebal. Opak Bakar Spesial ini berbetuk persegi panjang, lebih tipis dan renyah. Biasanya dibungkus dalam kemasan plastik terdiri dari sekitar 50 keripik dan kemasan luarnya dalam bentuk kardus kecil. Rasanya yang asin dan gurih sangat cocok untuk cemilan ditemani dengan segelas teh manis atau kopi panas. Opak Bakar Spesial yang terkenal yaitu OBS Dewi Merauke.


3. Jeniper

Jeniper singkatan dari Jeruk Nipis Peras adalah minuman khas dari Kuningan tentunya dengan bahan baku jeruk nipis dan gula pasir (selain Jeniper ada juga minuman serupa dengan nama Jenisa – Jeruk Nipis Asli-, bedanya minuman ini ditambah dengan madu). Minuman ini sangat segar apalagi jika disajikan dalam keadaan dingin tapi baik juga dalam keadaan hangat, jadi tergantung dengan selera masing-masing. Minuman ini mengandung banyak Vitamin C dan tanpa bahan pengawet sehingga aman dikonsumsi dan sangat bermanfaat agar tubuh kita tetap fit juga dapat menyembuhkan beberapa penyakit akibat kekurangan vitamin C seperti sariawan, panas dalam, sakit tenggorokan dan flu sampai masuk angin. Tersedia dalam kemasan botol besar dan botol kecil. Kadang juga dikasih aksessoris anyaman bambu pada botolnya agar bisa mudah ditenteng. Pusat dari produksi Jeniper dan Jenisa yaitu di desa Ciawigebang.


4. Raginang/Rengginang

Ranginang adalah makanan khas sejenis keripik yang terbuat dari beras ketan yang dikukus dengan rempah tertentu yang dikeringkan/dijemur kemudian digoreng. Biasanya dicetak dengan bentuk bulat atau lonjong. Selain rasa yang original baik asin maupun manis sekarang sudah tersedia raginang dengan berbagai rasa seperti keju, pedas, dan rasa lainnya. Biasanya raginang aneka rasa tersebut sudah dibungkus dengan kemasan plastik.


5. Keripik Gadung


Keripik Gadung adalah keripik yang terbuat dari sejenis umbi yang bernama gadung. Tanaman Gadung (Discorea Hispida) banyak tumbuh di ladang-ladang perkebunan di Kuningan. Tidak semua orang yang bisa mengolah gadung menjadi keripik, karena jika tidak diolah dengan benar bisa menjadi beracun. Untuk menghilangkan racunnya Umbi Gadung yang sudah dibersihkan dan diiris tipis kemudian diperam dengan abu baru dijemur. Keripik Gadung rasanya khas dan tidak terlalu keras teksturnya berbeda dengan keripik umbi ataupun keripik ketela pohon.


6. Emping Melinjo

Emping adalah makanan kecil yang terbuat dari biji melinjo (Gnetum Gnemon) atau dalam bahasa Sunda disebut tangkil. Melinjo dipipihkan (dipeprek) dengan ukuran yang bervariasi ada yang kecil dan ada yang besar tergantung selera. Emping melinjo sudah diolah dengan berbagai rasa ada yang manis, asin dan pedas. Biasanya emping dengan aneka rasa hanyalah untuk emping dengan ukuran kecil saja, sedangkan untuk emping ukuran besar biasanya dengan rasa original sebagai teman makan nasi. Emping melinjo aneka rasa sudah dikemas dalam kemasan plastik. Emping Melinjo yang terkenal dari Kuningan adalah Emping melinjo produksi dari desa Karangtawang.


7. Gemblong/Kecimpring Gemblong

Gemblong/Kecimpring adalah keripik yang terbuat dari ketela pohon yang diolah dengan berbagai bahan lain sehingga menjadi keripik yang gurih. Gemblong akan semakin nikmat sebagai teman makan baso, soto, mie ayam ataupun mie goreng. Rasa rempah yang khas dan tekstur keripik yang renyah membuat gemblong mempunyai cita rasa tersendiri. Gemblong Kuningan memang berbeda dengan gemblong dari daerah lain yaitu berupa makanan manis dengan bahan baku utama beras ketan. Jadi mungkin kita akan salah persepsi apabila menyebut gemblong, antara keripik dan kue.


8. Jawadah



Jawadah adalah makanan sejenis dodal dengan bahan utama beras ketan, gula merah, dan parutan kelapa. Jawadah berbeda dengan jenis dodol, baik dari rasa maupun bentuknya. Jawadah dibuat dalam ukuran besar kemudian dipotong-potong menjadi ukuran yang lebih kecil. Jawadah, rasanya tidak terlalu manis, tetapi tetap legit. Jawadah pun biasa disebut dodol keureut (potong) karena bentuknya sudah dipotong-potong seperti koin tebal


9. Papais

Papais adalah makanan yang terbuat dari bahan baku beras ketan atau ketela pohon yang dibungkus dengan daun pisang. Untuk Papais yang terbuat dari beras ketan ada papais bugis yang berisi adonan parutan kelapa dan gula aren, ada papais monyong berbentuk kerucut dengan isi enten kacang hijau, ada papais koci yang berwarna hijau dengan enten gulamerah dan parutan kelapa dan ada papais beureum yang berwarna merah tanpa isi. Kalau papais yang terbuat dari ketela pohon adalah nagasari yang dalamnya buah pisang atau cuma papais tanpa isi yang rasanya asin.


10. Leupeut

Leupeut adalah makan yang terbuat dari beras ketan dan sari kelapa kemudian dibungkus dengan daun kelapa muda yang dilipat dua ujungnya dan diikat dengan tali bambu. Leupeut rasanya gurih dan kenyal, cocok dimakan dengan ditemani kuping, ketempling, raginang, gemblong dan berbagi keripik lainnya.


11. Koecang



 Koecang adalah makanan sejenis bacang yang terbuat dari beras ketan yang dipadatkan, dicampur dengan sari apu dan dibungkus dengan daun bambu. Sehelai daun bambu melindungi isi dari tiga sisi, diakhiri dengan memasukkan tangkai daunnya ke dalam bagian ujung balutan yang agak terbuka dan terakhir diikat dengan tali bambu sehingga mudah ditenteng. Isi koecang adalah beras ketan berwarna kuning. Sama halnya dengan leupeut koecang cocok dimakan dengan ditemani kuping, ketempling, raginang, gemblong dan berbagi keripik lainnya.


12. Wajit Subang

Wajit Subang adalah makanan yang terbuat dari beras ketan, gula merah dan kelapa yang diolah kemudian dibungkus dengan cangkang buah jagung atau kulit pohon pinang yang sudah dikeringkan. Rasanya manis dan legit cocok sebagai teman minum teh atau kopi.


13. Ketempling



 Ketimpling adalah makanan sejenis gemblong dengan ukuran yang lebih kecil. Ketempling rasanya sama seperti gemblong cuma bentuknya bulat kembung kosong bagian tengahnya. Seperti gemblong ketimpling juga akan semakin nikmat sebagai teman makan baso, soto, mie ayam ataupun mie goreng.



14. Keripik Ubi



 Seperti namanya keripik ini terbuat dari ubi ungu dengan berbagai aneka rasa. Ubi Ungu banyak dibudidayakan di Kuningan sehingga tidak hanya untuk direbus tapi juga diolah menjadi berbagai panganan lainnya seperti berbagai jenis keripik, keremes, dan kue.


15. Kopi Luwak Linggarjati



 Kopi Luwak berasal dari kopi yang diambil dari kotoran luwak yang sengaja dibudidayakan di sekitar gunung Ciremai tepatnya daerah Linggarjati. Kopi Luwak terkenal karena rasa juga aromanya yang khas selain harganya yang mahal. Ada kepuasan tersendiri bagi para penikmatnya dalam menikmati secangkir kopi luwak.


16. Kuping Gajah / Rempeyek / Ronge-Ronge



 Kuping Gajah/Rempeyek/ Ronge-Ronge adalah makanan sejenis keripik dengan bahan baku campuran antara tepung beras, air santan, kemiri, ketumbar, kencur, garam yang ditaburi kacang baik kacang tanah, kacang kedelai ataupun kacang hijau kemudian digoreng. Rasanya gurih dan garing krenyes-krenyes, cocok dijadikan camilan.


17. Kelepon/Onde-onde

Kelepon/Onde-onde adalah kue yang terbuat dari tepung ketan yang dibentuk bulat menyerupai kelereng dengan isi gula merah dan dikasih parutan kelapa dibagian luarnya. Biasanya kelepon dikasih pewarna makanan baik hijau maupun merah. Kelepon rasanya manis dan kenyal.


18. Cuhcur




Cuhcur adalah kue yang terbuat dari adonan beras ketan, gula merah, gula pasir dan santan yang digoreng. Rasanya manis dan agak keras. Cocok dijadikan camilan teman minum teh dan kopi.


19. Awug



Awug adalah makanan yang terbuat dar tepung beras, parutan kelapa, daun pandan dan gula merah. Bentuknya menyerupai tumpeng berupa gunungan kecil. Rasanya manis dan berserat.


20. Hadas

Hampir mirip Awug, hadas adalah makanan sejenis kue dengan bahan baku utama beras ketan dan kelapa. Rasanya manis dan berserat.


21. Sale Pisang



Sale Pisang adalah camilan dengan bahan baku utama pisang matang diiris kemudian dijemur untuk mengurangi kadar airnya dan lebih tahan lama. Kemudian pisang dengan adonan tepung digoreng. Selain rasa yang original ada beberapa pilihan rasa diantaranya adalah pisang sale rasa keju.



22. Keripik Pisang



 Keripik Pisang adalah keripik yang dibuat dari pisang mentah yang diiris-iris tipis kemudian digoreng. Jenis pisang yang sering digunakan biasanya adalah pisang kepok kuning segar. Irisannya ada dipotong-potong membentuk lingkaran ataupun memanjang. Rasanya ada yang asin dan ada yang manis tergantung selera.


23. Keripik Singkong



Keripik Singkong adalah makanan yang terbuat dari singkong/ketela pohon yang diiris tipis-tipis kemudian di goreng. Ada beberapa pilihan rasa diantaranya keju, pedas, dan asin.


24. Sasagon (Kue Kelapa)



Sasagon adalah kue dengan bahan baku tepung beras ketan dan kelapa.


25. Beca




Beca adalah keripik yang terbuat dari singkong dengan ukuran yang besar berbentuk lonjong atau bulat. Yang biasanya saat membentukknya si pipihkan dengan garpu. jadi pada saat setelah digoreng teksturnya bergelombang.


26. Ampyang



Ampyang adalah makanan yang dibuat dengan bahan baku utama kacang tanah dan gula merah.


27. Moho




Moho adalah makanan sejenis bakpau dengan isi kelapa dan gula merah, namun adapula yang berisi kacang hijau. Ukurannya lebih kecil dar bakpau, berwarna putih atau hijau.



28. Golono



Golono adalah gorengan khas dari Luragung.

29. Gendar



Gendar adalah keripik yang terbuat dari sisa nasi yang dikeringkan/dijemur kemudian dibentuk menjadi adonan keripik dan diiris tipis lalu digoreng.


31. Kue Satu



Kue Satu adalah kue yang terbuat dari kacang hijau yang disanggrai dan dihaluskan dicampur dengan gula halus kemudian dicetak.


32. Kodowel



Cemilan yang terbuat dari rebusan singkong sisa diiris tipis lalu digoreng dan di campur oleh caramel gula merah.


33. Ketan Uli



Cemilan ini terbuat dari beras ketan yang di rebus lalu dihaluskan dan ditempatkan pada loyang lalu dipotong-potong, dan dapat digoreng maupun di bakar.


34. Bakasem



Kadongdong Bakasem Kadongdong adalah manisan yang terbuat dari buah kedongdong.


35. Apem



Apem adalah makanan yang dibuat dari tepung beras ketan, gula, santan kelapa, ragi yang dibentuk manjadi adonan dan dicetak kemudian dibakar sampai matang dan mengembang. Teksturnya lembut dan berpori. Biasanya disajikan dengan kuah gula merah.


36. Rarawuan




Rarawuan adalah makanan sejenis bakwan atau bala-bala, dengan bahan baku kacang hitam, kelapa kering dan terigu.


37. Wiwingka





Wiwingka adalah kue berwarna kuning manis dan berserat. Makanan ini teksturnya legit dan cocok dimakan bersama teh hangat.
38. Tahu Lamping



Tahu lamping adalah tahu asli Kuningan, berbeda dengan tahu Sumedang tahu ini lebih padat dan berisi juga memiliki rasa gurih yang khas. Rasanya yang khas konon karena proses pembuatannya yang menggunakan mata air di desa Cigadung yang berada di lamping (lereng) gunung Ciremai. Yang paling terkenal adalah tahu lamping Kopeci (Koperasi Pemuda Cigadung) berada di Jl. Veteran Jagabaya.


39. Putri Noong



Putri Noong adalah kue yang terbuat dari parutan singkong dan pisang nangka lalu dibaluri oleh parutan kelapa.

Makanan khas Kuningan sangat banyak ragamnya, saya sendiri tidak hapal satu-satunya. Mungkin dari para pembaca bisa menambahkan.... sehingga kita saling belajar dan menjadi salah satu cara melestarikan kuliner daerah bangsa kita,.. silahkan......